BREAKING NEWS

Baterai Nuklir Dalam Misi Ruang Angkasa

Halo Sobat Nuklir!
Oleh Azizahnur Abdullah

     Berkembangannya teknologi yang begitu pesat, membuat manusia semakin penasaran dalam melakukan penelitian. Dalam era globaliasi sekarang ini, berbagai penelitian secara terus menerus dikembangkan terutama teknologi nuklir. Nuklir memang telah menyumbang banyak manfaat dalam kehidupan manusia, dan bahkan negara-negara di dunia secara terus menerus mengembangkan teknologi ini demi mensejahterakan masyarakat, baik dalam bidang kesehatan, pangan, industry, energy dan lain-lain. Energy adalah hal yang paling utama diperlukan oleh manusia dalam beraktivitas. Pemanfaatan nuklir dibidang energy sangat banyak sekali aplikasinya dalam kehidupan dan salah satunya adalah penggunaan baterai nuklir misi ruang angkasa. Baterai nuklir menjadi mempunyai peran sangat penting bagi NASA dalam mencapai misi ruang angkasa, hal ini mendukung penyelidikan benda-benda ruang angkasa maka NASA memanfaatkan radiasi radioaktif dari baterai nuklir sebagai pemancar panas. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan bahwa baterai nuklir mampu menyuplai listrik yang tinggi, relative konstan dalam waktu yang lama. Baterai nuklir yang dikembangkan dalam misi ruang angkasa tersebut adalah Radioisotop Thermoelectric Generator (RTG)
Baterai Nuklir
Baterai nuklir merupakan suatu perangkat yang menghasilkan listrik dari sumber radiasi radioaktif [1]. Pemanfaatan energy nuklir untuk diubah menjadi tenaga listrik arus searah (DC) adalah karena timbulnya electron ata muatan listrik pada peristiwa peluruhan zat radioaktif. Oleh karena itu, sumber arus searah baterai nuklir ini berasal dari radioisotop yang memancarkan radiasi Alfa dan Beta [2]. Baterai nuklir yaitu termoelemen yang memanfaatkan radiasi radioaktif sebagai sumber panas. Ada beberapa jenis baterai nuklir yang prinsip kerja serta jenis unsur radioaktif yang digunakan berbeda-beda. Salah satunya adalah baterai nuklir jenis termokopel yang memanfaatkan panas dari radiasi. Termokopel merupakan alat yang mengubah energy termal langsung menjadi energy listrik [5]. Maka panas yang dihasilkan dari termokopel  akan memberikan daya pada pesawat ruang angkasa.
Dalam pesawat ruang angkasa, baterai nuklir harus disegel dan tidak boleh terbuka agar bisa beroperasi dalam ruang hampa. Baterai bisa beroperasi pada rentang suhu yang luas dan tidak boleh memancarkan gas yang akan merusak keadaan luar angkasa, karena dapat mengganggu lintasannya atau mencemari instrument dan sistem pendukung kehidupan [4]. 
Baterai nuklir jenis RTG

Karena dalam pesawat ruang angkasa menggunakan termokopel, maka panas yang disuplay tergantung dengan waktu paruh unsur radioaktifnya. Daya pakai pada termoelemen bisa sangat panjang yang umumnya mencapai dua kali waktu paruh unsur radioaktif yang digunakannya. Jenis baterai nuklir yang digunakan dalam misi ruang angkasa adalah Radioisotop Thermoelectric Generator (RTG).
Radioisotop Thermoelectric Generator (RTG)
Baterai nuklir RTG sangat sering digunakan terutama dalam pesawat ruang angkasa. Awalnya RTG dikembangkan oleh NASA sebagai bahan bakar karena mempunyai daya suplay listrik yang tahan lama. RTG dapat menghasilkan listrik melalui penggunaan generator radioisotope. Teknologi termoelektrik yaitu teknologi yang bekerja mengkonversi energy panas menjadi listrik secara langsung (generator termoelektrik) atau dari listrik menghasilkan dingin atau pendingin termoelektrik [3].  Kemudian dalam generator termoelektik  juga tergantung pada efek seebeck. Efek seebeck adalah fenomena yang mengubah perbedaan temperature menjadi energy listrik [7]. Hal ini digunakan sebagai pembangkit lsitrik bagi termoelektrik. Agar temperature pada baterai nuklir pada RTG tidak panas, maka dilindungi dengan sabuk pendingin. Baterai nuklir RTG berbentuk silinder dengan tinggi 45 inchi (114 cm), diameter 18 inchi (45 cm) dan beratnya 123,5 pound (62 kg).
Pada RTG bahan bakar yang digunakan adalah PU238. ada sejumlah alasan mengatakan bahwa dalam misi ruang angkasa PU238 sangat tepat digunakan karena memiliki waktu paruh yang panjang yaitu sekitar 87 tahun, kepadatan daya tinggi, daya spesifik tinggi dan emisi alfa nya murni 100% [6].
Berbagai macam pesawat ruang angkasa yang telah diluncurkan oleh NASA untuk menyelidiki planet. Salah satunya adalah pesawat Cassini sebagai penyelidikan planet Saturnus pada bulan Oktober 1997. Pesawat Cassini yang dilengkapi dengan baterai nuklir RTG berkekuatan 275 Watt ini mengemban misi untuk menyelidiki cincin Saturnus dan bulan-bulan yang mengelilinginya selama empat tahun.  
Berdasarkan penjelasan diatas bahwa, energy nuklir mempunyai peran penting dalam mencapai misi ruang angkasa. Hal ini dengan memanfaatkan radiasi radioaktif dari baterai nuklir jenis RTG.

Referensi
1.Batan Kaji Limbah Radioaktif Jadi Baterai Nuklir. (http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/18/04/19/p7fvi2284-batan-kaji-limbah-radioaktif-jadi-baterai-nuklir) Diakses Pada 07 April 2020.
2.Baterai Nuklir: Sumber Arus Searah Yang Perlu Dikembangkan. (http://www.elektroindonesia.com/elektro/ener30.html  Di Akses Pada 07 April 2020.
3.Generator Termoelektrik Radioisotope (https://id.m.wikipedia.org/wiki/Generator_termoelektrik_radioisotop) Di Akses Pada 07 April 2020
4.Baterai diluar Angkasa (https://id.m.wikipedia.org/wiki/Baterai_di_luar_angkasa) Diakses Pada 07 April 2020
5.What Are Possible Power Sources For Satellites Diakses (http://www.qrg.northwestern.eddu/projects/vss/docs/power/1-what-are-rtgs.html) Pada 07 April 2020
6.Improving the overall efficiency of Radioisotope thermoelectric Generator’s. (https://www.researchgate.net/publication/271498506) . Diakses Pada 07 April 2020
7.Generator termoelektrik. (https://id.m.wikipedia.org/wiki/Generrator_Termoelektrik). Diakses Pada 07 April 2020.

Share this:

Posting Komentar

 
Copyright © 2014 Komunitas Muda Nuklir Nasional. Designed by OddThemes